Jumat, 24 Mei 2013

DI TENGAH MUSIM GUGUR, BERSABARLAH!


Yakobus 5:7-11


"Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan."  Yakobus 5:10

Kita masih ingat peristiwa yang terjadi di negeri ini beberapa waktu yang lalu, dimana demonstrasi terjadi secara besar-besaran menuntut dibatalkannya rencana kenaikan harga BBM.  Kita tahu bila harga BBM naik akan berdampak terhadap harga-harga kebutuhan pokok rakyat.  Bisa dibayangkan betapa nasib masyarakat kelas bawah:  makin hidup dalam kesukaran dan penderitaan.  Jangankan menatap masa depan, menjalani hidup hari demi hari saja sudah sangat terasa berat.  Firman Tuhan ini menasihatkan agar kita tetap sabar dan kuat dalam menghadapi masa-masa sukar di akhir zaman ini.  Dikatakan, "Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan!"  (Yakobus 5:7a).  Kata 'bersabar' disebutkan berulang-ulang dengan harapan supaya setiap anak Tuhan menyadari akan hal ini.  Bersabar adalah kunci untuk menghadapi situasi kehidupan sekarang ini.

     Tuhan mengajar kita untuk belajar dari kehidupan seorang petani yang begitu sabar menantikan masa panen, karena kehidupan petani sangat bergantung pada hasil panennya.  Karenanya mereka terus bersabar mulai dari saat menanam benih, merawat tanaman itu tumbuh, hingga musim panen tiba.  Itu bukanlah waktu yang singkat, tapi melalui proses yang begitu panjang.  Dikatakan oleh yakobus para petani melewati 2 musim yaitu musim gugur dan musim semi.  Ketika musim gugur datang semua tanaman mengalami terik, di mana dedaunan dan bunga-bunga rontok;  pohon-pohon menjadi gundul.  Meski demikian para petani tidak menjadi kecewa apalagi putus asa, mereka tetap sabar dan bertekun karena tahu bahwa pada saatnya masa itu akan lewat dan berganti dengan musim semi.  Di musim semi inilah daun-daun mulai menghijau, tunas bermunculan, bunga-bunga bermekaran, dan pohon-pohon pun mulai menghasilkan buah pertanda bahwa masa panen telah tiba.

     Jika kita sedang ada di 'musim gugur', seolah-olah tidak ada harapan, menderita sakit-penyakit, kesulitan ekonomi, jangan bersungut-sungut dan menggerutu.

Tetapi tetap sabar dan nantikan Tuhan karena pada saatnya 'musim semi' itu tiba dan semua indah pada waktuNya!

PERCERAIAN KEBENCIAN TUHAN!


Maleakhi 2:10-16


"Sebab Aku membenci perceraian, firman Tuhan, Allah Israel..."  Maleakhi 2:16

Kawin-cerai sepertinya menjadi hal yang biasa banyak orang, terutama di kalangan para artis atau selebritis.  Menikah baru beberapa tahun, ada yang hanya dalam hitungan bulan, kemudian memutuskan untuk bercerai karena merasa sudah tidak cocok lagi.  Bahkan ada yang kawin-cerai sampai 2-3 kali.  Banyak orang berpikir bahwa ketika rumah tangganya dalam masalah, perceraian adalah jalan terbaik.  Salah besar!  Perceraian adalah jalan terburuk dan ini merupakan perbuatan keji di mata Tuhan.  Mengapa?  "Oleh sebab Tuhan telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu.  Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya."  (ayat 14-15).

     Ingat, pernikahan bukanlah perjanjian antara dua orang saja, tetapi melibatkan tiga pribadi yaitu suami, isteri dan juga Tuhan.  Dalam janji pernikahan, suami dan isteri saling menandatangani sebuah surat perjanjian untuk saling mengasihi, menerima kelebihan dan kekurangan pasangan dan berjanji sehidup semati atau setia sampai maut memisahkan mereka berdua.  Tuhan adalah saksi utama yang juga turut menandatangani dan mensahkannya.  Sesuai dengan rencana Tuhan, pria dan wanita dipertemukan untuk menjadi satu daging supaya mereka saling melengkapi, mengasihi, bersekutu dan bersama-sama melayani Tuhan.

     Jadi, perceraian tidak hanya melanggar sebuah perjanjian kudus, tetapi juga merupakan kebencian Tuhan.  Suami dan isteri yang telah dipersatukan dalam ikatan pernikahan bukan lagi dua tetapi menjadi satu daging, dan apabila dipisahkan pasti akan terasa sakit sekali.  Tuhan tahu itu karena Ia turut juga merasakan kelemahan kita, karena itulah Dia sangat membenci perceraian.  Apa pun alasannya, perceraian bukanlah jalan Tuhan.  Pikirkan dampak yang ditimbulkan, di mana anak-anak pasti menjadi korban.

Seberat apa pun badai menyerang dalam rumah tangga, jangan putus asa, datang pada Tuhan Yesus, Dia pasti akan memberi jalan keluarnya!

TANDA-TANDA KEDEWASAAN ROHANI


Roma 12:9-21 


"Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan."  Roma 12:11

Tanda seseorang dewasa rohani adalah apabila hidupnya benar-benar berubah dan makin sungguh-sungguh dalam Tuhan.  Ayat nas mengingatkan agar kita rajin beribadah apa pun keadaan kita, sebab  "...ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang."  (1 Timotius 4:8).  Biarlah roh kita terus menyala-nyala bagi Tuhan, kian rajin berdoa dan melayani Tuhan.  Orang Kristen dewasa akan senantiasa penuh kesungguhan melakukan kehendak Tuhan.  Terkadang kita diijinkan mengalami dan melewati masa-masa sukar, penderitaan dan dalam tekanan supaya kita benar-benar merasakan dan mengalami kasih Tuhan nyata.

     Seorang Kristen yang dewasa pasti memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan.  Ada pun tanda bahwa seseorang bisa dikatakan Kristen yang dewasa antara lain adalah: Pertama, fokus kepada Tuhan.  orang kristen yang dewasa rohani pasti tidak akan terpengaruh oleh keadaan;  senantiasa mengandalkan Tuhan dan memiliki penyerahan penuh kepadaNya sehingga di segala keadaan masih tetap bisa mengucap syukur.  Berbeda dengan seorang Kristen kanak-kanak, yang karena kerohaniannya suam-suam kuku, biasanya mudah sekali goyah dan terombang-ambing oleh situasi;  percaya kepada Tuhan Yesus tetapi masih juga pergi dan mencari pertolongan kepada dukun atau paranormal, masih saja percaya kepada primbon, hongsui, ramalan bintang dan lain-lain.  Ada juga yang rajin beribadah ke gereja tapi di rumah masih menyimpan jimat.

     Kedua, hidup dalam pimpinan Roh Kudus.  Artinya tidak lagi hidup menurut keinginan daging karena sudah mampu menimbang dan membedakan mana yang berkenan kepada Tuhan dan mana yang tidak.  Dalam Ibrani 5:14 dikatakan,  "...makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat."

     Ketiga, menghasilkan buah.  Hidupnya menjadi berkat bagi orang lain dan memiliki komitmen dalam pelayanan;  dan semua itu ia lakukan bukan karena rutinitas belaka, tapi didasari oleh kasihnya kepada Tuhan.

Renungkan:  sudahkah kita mencapai kedewasaan rohani?

PERCAYA DAN JANGAN LAGI KUATIR!


Mazmur 56:1-14


"Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?"  Mazmur 56:9

Mengapa kita sering merasa takut dan kuatir?  Karena kita suka sekali menghitung-hitung masalah, kesukaran dan penderitaan yang kita alami.  Jika hal itu terus kita lakukan, kita akan semakin kecewa dan terpuruk.  Sesungguhnya kita tidak memiliki kuasa untuk menghitung-hitung masalah dan penderitaan kita.  Semakin kita menghitungnya, semakin kita menjadi lemah.  Ingat, ketika berdoa dan menyerahkan seluruh beban hidup kita kepada Tuhan dengan linangan air mata, air mata kita telah Tuhan daftarkan.  Artinya, air mata kita telah ditampung di dalam kirbat Tuhan dan Ia hendak menggantikannya dengan berkat dan sukacita yang berkelimpahan.  Karena itu berhentilah menghitung-hitung, milikilah iman yang teguh bahwa Tuhan sangat peduli dengan apa yang kita alami.

     Kita harus sadar bahwa kekuatiran, ketakutan dan kebimbangan adalah bentuk serangan Iblis bagi orang percaya di akhir zaman.  Iblis selalu memiliki rancangan yang buruk bagi kehidupan manusia, tidak terkecuali bagi orang percaya.  Iblis sangat suka melihat orang Kristen yang selalu kuatir, takut dan bimbang.  Memang itulah agenda Iblis:  menyerang manusia di segala aspek kehidupannya, baik lewat perekonomian, keluarga atau rumah tangga, pelayanan dan sebagainya sehingga manusia akan kehilangan damai sejahtera, sukacita, dan tidak percaya lagi alias mulai ragu akan kuasa Tuhan.  Akibatnya manusia mulai mencari pertolongan instan kepada ilah-ilah lain.

     Semakin kita memandang sekeliling kita, kita akan semakin memikirkan masalah dan hal itu membuat kita menjadi lemah.  Mari kita arahkan pandangan kita pada kebesaran dan kedahsyatan kuasa Tuhan saja.  Tidak seharusnya kita kuatir dan bimbang sebab kita memiliki Tuhan yang besar, yang jauh melebihi besarnya semua masalah yang kita alami di dunia ini.  Apakah dengan kuatir, masalah kita terselesaikan?  Justru sebaliknya, kekuatiran dan kebimbangan semakin menjauhkan kita dari mujizat Tuhan, karena "...orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.  Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan."  (Yakobus 1:6-7).

Buang semua kekuatiran, dan percayalah!

TUHAN DAPAT MEMAKAI SIAPA SAJA!


Amos 7:10-17


"Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan."  Amos 7:14

Banyak orang Kristen berpikir bahwa yang boleh melayani Tuhan atau memberitakan firman Tuhan hanyalah orang-orang yang menyandang gelar sarjana teologia atau para lulusan sekolah Alkitab, pendeta, mereka yang sudah lama menjadi Kristen, atau yang punya keahlian bermain musik dan talenta lain.  Perhatikan!  Semua anak Tuhan tanpa terkecuali, besar atau kecil, tua atau muda, pendeta atau bukan, sekolah Alkitab atau tidak, punya tugas dan kewajiban untuk melayani Tuhan dan turut ambil bagian dalam pelebaran kerajaan Allah di muka bumi ini.  Jadi tidak ada batasannya karena tingkat pelayanan masing-masing orang berbeda, dari yang paling sederhana hingga yang paling besar tanggung jawab serta konsekuensinya di hadapan Tuhan dan juga manusia.

     Salah satu contohnya adalah Amos.  Siapakah Amos?  Amos adalah orang biasa yang hanya berprofesi sebagai peternak dan juga pemungut buah ara di hutan.  Meski demikian, bukanlah halangan bagi dia untuk dipakai Tuhan menjadi alatNya yang luar biasa.  Amos dipanggil Tuhan untuk menyampaikan firman Tuhan kepada orang-orang yang berada di Israel Utara, di mana kejahatan pada waktu itu sangat merajarela dan mereka tidak takut akan Tuhan.  Itulah sebabnya Tuhan mengutus Amos untuk menyampaikan nubuatan-nubuatan tentang penghukuman atas mereka.  Nama  'Amos'  sendiri berarti  'yang diangkat atau ditopang oleh Tuhan'.  Sesuai dengan namanya, dalam menjalankan tugasnya Amos mendapat topangan langsung dari Tuhan, karena dengan kekuatan sendiri ia pasti tidak akan mampu mengerjakan tugas dari Tuhan ini.

     Dengan penyertaan tangan Tuhan, Amos rela meninggalkan kampung halamannya di Tekoa (Israel Selatan), pergi ke tempat di mana Tuhan telah tunjukkan.  Sebagai anak-anak Tuhan kita tidak perlu takut atau merasa kecil hati untuk melayani Tuhan.  Ingat, Tuhan tidak pernah memanggil dan memilih seseorang menurut kriteria manusia, tapi Ia melihat hati.

Yang pasti  "...Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."  Roma 8:28

YANG DIPAKAI TUHAN ADALAH.... ?

1 Korintus 1:18-31

"Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita."  1 Korintus 1:30

Rasul Paulus menyadari bahwa keberadaannya sebagai pemberita Injil tak lebih sebagai "...hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah."  (1 Korintus 4:1).  Sebagai seorang hamba, tugasnya hanyalah taat dan tak punya hak untuk menuntut;  baginya, dipercaya sebagai pemberita Injil sudah merupakan anugerah yang luar biasa, karena itulah kepercayaan ini tidak pernah disia-siakannya.  Setiap kita adalah hamba-hamba Tuhan dan kita punya kesempatan untuk dipakai Tuhan seperti Rasul Paulus.

     Siapa yang Tuhan pakai?  Pertama, Tuhan akan memakai orang-orang yang setia.  Tuhan sangat memperhatikan orang-orang yang setia mengerjakan perkara-perkara kecil.  Contohnya adalah Daud.  Sebelum menjadi raja, Daud hanyalah seorang penggembala domba yang jumlahnya hanya 2-3 ekor, tapi ia begitu setia mengerjakan tugas itu.  Banyak orang maunya langsung memulai perkara-perkara besar tapi tidak suka dan tidak setia mengerjakan perkara-perkara kecil.  Justru orang yang telah teruji kesetiaannya dalam mengerjakan perkara-perkara kecil pada saatnya akan dipercaya Tuhan untuk perkara-perkara yang lebih besar.  Tertulis,  "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." (Lukas 16:10).  Oleh karena itu setialah terhadap perkara apa pun yang dipercayakan Tuhan kepada kita saat ini meski itu perkara-perkara kecil, karena cepat atau lambat Ia akan memberikan upah kepada setiap orang yang setia kepadaNya.

     Kedua, Tuhan memakai orang-orang yang rendah hati yang memberikan segala kemuliaan kepadaNya, yaitu orang yang rela memberikan segenap hidupnya untuk Tuhan tanpa mencari hormat dan pujian dari manusia.  Itulah sebabnya mengapa Tuhan memakai orang-orang yang dipandang kurang berarti oleh dunia supaya jangan ada seorang pun yang memegahkan diri di hadapan Tuhan dan manusia, yaitu orang-orang yang mau dibentuk, dibersihkan dan dipotong, karena tidak ada seorang pun bisa langsung siap dipakai Tuhan tanpa melalui proses.

Mari sabar saat Ia membentuk kita, karena rencanaNya selalu sempurna atas kita!

DARI BIASA MENJADI LUAR BIASA


Senin, 27 Mei 2013

Efesus 3:14-21

"Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,"  Efesus 3:20

Banyak dari kita yang berpikir Tuhan hanya memakai orang-orang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata atau pintar, kaya dan kuat saja untuk Ia pakai sebagai kemuliaanNya.  Lalu, kita yang merasa diri sebagai orang yang biasa-biasa saja dan tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan, menjadi rendah diri dan merasa tidak layak di hadapan Tuhan.  Perhatikan ayat ini:  "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah."  (1 Korintus 1:27-29).  Justru orang-orang yang dipandang sebelah mata oleh dunia dan orang-orang  "biasa"  dapat dipakai Tuhan secara ajaib, karena  "...Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan,"  Jadi kita pun dapa melakukan perkara-perkara besar dan ajaib asal kita percaya bahwa Tuhan sanggup memakai hidup kita menurut kuasaNya.

     Tokoh-tokoh besar seperti Abraham, Musa, Daud, Gideon, Yosua dan lain-lain adalah orang-orang biasa yang dipakai dan diurapi Tuhan menjadi orang-orang yang luar biasa.  Tuhan tidak mencari orang-orang yang mampu, kuat atau pintar, tetapi Dia mencari orang yang mau, yaitu mau untuk diproses dan dibentuknya menjadi bejanaNya yang mulia dan berharga.  Saat ini Tuhan sedang mencari orang-orang yang mengasihi Dia dengan sungguh, memiliki hati yang benar dan memiliki tekad untuk memberi yang terbaik bagiNya.  Manusia melihat penampilan luar seseorang dan apa yang terlihat secara kasat mata, tetapi Tuhan melihat hati  (baca 1 Samuel 16:7).

     Jika saat ini Tuhan memilih dan mengurapi kita menjadi alatNya, itu semata-mata karena anugerahNya.  Karena itu jangan ada yang membanggakan diri atau menyombongkan diri.  Tidak ada alasan sedikit pun bagi kita untuk bermegah.

Tetaplah rendah hati dalam pelayanan, jangan sekali-kali mencari hormat pujian manusia, karena segala pujian, hormat dan kemuliaan hanya bagi Tuhan saja!

Jumat, 03 Mei 2013

BERSERAH DAN PERCAYA KEPADA TUHAN

Mazmur 31:1-25

"Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya Tuhan, Allah yang setia." Mazmur 31:6

Sebagai pengikut Kristus status kita adalah anak-anak Tuhan dan kita disebut pula sebagai orang percaya, yaitu percaya kepada Kristus. Kepercayaan yang dimaksud bukanlah sekedar percaya, tetapi penyerahan penuh kepada Tuhan dan mempercayakan seluruh hidup kita kepadaNya. Tertulis: "Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;" (Mazmur 37:5).

Ayat nas di atas menggambarkan tentang penyerahan hidup Daud kepada Tuhan, di mana ia yakin bahwa perlindungan yang aman hanya ia temukan di dalam Dia. Daud berkata, "Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku. Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku." (Mazmur 31:4-5). Sebagai raja atas Israel bukan berarti Daud bebas dari masalah, malah dia banyak mengalami kesesakan, penderitaan dan melewati masa-masa sukar yang disebabkan oleh musuh-musuhnya yang berusaha untuk menjatuhkan dia.

Berserah berarti kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan di segala keadaan, baik suka maupun duka, saat dalam masalah, penderitaan, sakit, kesulitan, sedang diberkati atau sehat wal'afiat hari lepas hari, bukan pada saat-saat tertentu saja. Inilah yang disebut dengan tindakan iman, di mana kita mempercayakan hidup dan mempersilahkan Tuhan berkarya dalam hidup kita. Bukan iman yang setengah-setengah, bukan iman musiman, tetapi iman yang utuh dan seluruh.

Mengapa perlu memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan? Supaya hidup kita sesuai dengan kehendak dan rencanaNya. Ini tidaklah mudah karena sebagai manusia kita cenderung mengandalkan kekuatan dan kepintaran sendiri dibanding tunduk kepada kehendak Tuhan. Namun untuk berkenan kepada Tuhan tidak ada jalan lain selain harus mau dibentuk seperti tanah liat. Adakah tanah liat memberontak ketika dibentuk diproses? Tanah liat hanya bisa berserah dan percaya penuh kepada si penjunan.

Milikilah penyerahan penuh kepada Tuhan karena Dia tahu yang terbaik bagi kita dan tidak ada rancanganNya yang gagal atau salah!

Selasa, 30 April 2013

DOA ADALAH NAFAS HIDUP KITA

Roma 12:9-21

"Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" Roma 12:12

Alkitab tidak pernah berhenti menasihati agar kita selalu bertekun di dalam doa. Itulah yang dikehendaki Tuhan! Banyak orang Kristen yang merasa dan menjadikan doa sebagai suatu hal yang sulit dilakukan. Sehari ada 24 jam, tapi rasa-rasanya kita sulit menyediakan waktu; jangankan 1 jam, beberapa menit saja kita sepertinya tak mampu, padahal berdoa itu sangat penting dan harus menjadi bagian hidup kita. Bagi orang percaya, doa itu menjadi nafas hidup! Bayangkan jika kita tidak dapat bernafas beberapa menit saja kita pasti akan mati. Tanpa doa kita pun akan mengalami kematian rohani. Terlebih di masa-masa sulit sekarang ini, masihkah kita tidak mau berdoa? "Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi Engkau dapat ditemui; sesungguhnya pada waktu banjir besar terjadi, itu tidak melandanya." (Mazmur 32:6). Karena itu doa harus menjadi prioritas agar kerohanian kita mengalami kemajuan dan kuat di segala keadaan.

Apa sebenarnya yang terjadi ketika kita berdoa? Kita berkomunikasi dengan Tuhan; suatu hubungan yang intim/akrab antara kita sebagai anak dengan Tuhan sebagai Bapa kita. Hubungan ini bersifat dua arah: kita mencurahkan isi hati kita kepada Tuhan dan kita memberi kesempatan Dia berbicara kepada kita. Seringkali yang terjadi kita hanya berdoa ketika rincian kebutuhan kita sudah menumpuk tanpa mempedulikan apa yang Tuhan mau. Ketika kita mendisiplinkan diri dalam hal berdoa, kita akan semakin dewasa rohani sehingga kita pun semakin mengenal Tuhan dan semakin mengerti kehendakNya atas kita. Kehebatan pelayanan Tuhan Yesus bukanlah karena Ia mengandalkan keberadaanNya sebagai Anak Allah, tetapi sebagai Anak Manusia yang senantiasa mengandalkan BapaNya melalui doa-doaNa. Ia tidak pernah melewatkan waktuNya tanpa doa. KehidupanNya selama di bumi penuh dengan doa.

Jikalau kita ingin hidup seperti Tuhan Yesus tidak ada jalan lain selain kita harus mendisplinkan diri dalam hal berdoa. Ia berkata, "Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu." (Yohanes 14:12).

Disiplin dalam berdoa adalah kunci kemenangan orang percaya!

Senin, 19 September 2011

MENGARAHKAN PANDANGAN

Maz. 16:8

Charles Spurgeon, pengkotbah legendaries asal Inggris ini menuai banyak kontraversi di masa-masa puncak pelayanannya. Media dijamannya senang memuat berita tetang dirinya. Mereka mengambil keuntungan dari sebuah target yang besar, seorang pengkotbah yang jga manusia biasa. Pada umumnya ia dapat mengendalikan dirinya, tetapi ada satu titik dimana menurut apa yang diberitakan sudah keterlaluan. Sama seperti kita, Spurgeon pun memiliki batas kesabaran.

Istrinya memperhatikan depresi yang sedang dialami Spurgeon. Ia menjadi prihatin akan keadaan suaminya, dan berharap agar ia tidak kehilangan semangat dan kesempatan sementara menjalani masa-masa sulit tersebut. Rasa keprihatinannya itu membuat istrinya melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia membuka Alkitabnya di perikop Kotbah Di Bukit, dimana Yesus berkata:”Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” ( Mat. 5:11-12)

Dengan tulisan tangannya sendiri, sabg istri menulis kata-kata itu di sebuah kertas besar. Kemuadian ia menempelkannya di langit-langi di atas ranjang. Ketika sang pengkotbah membalikkan badan keesokan paginya, ia terbangun dan mengedip-ngedipkan matanya, ia membaca kata-kata tersebut. Ia membacanya dengan keras. Ia terfokus secara vertical terhadap apa yang dikatakan Allah dan hal tersebut memperbaharui hatinya. Bukankah ide sang istri sungguh luar biasa?

Hal yang sama juga dapat Anda alami, jika Anda mengarahkan pandangan Anda lurus kepada Allah, maka Anda mendengar Dia berbicara langsung kepada hati Anda. Percayalah, perjumpaan dengan Allah kala penderitaan akan mengubahkan kehidupan Anda. Anda tidak sendiri. Tuhan selalu bersama dengan kita.

Kekuatan Kita adalah Ketika Kita Mengandalkan Tuhan Sepenuhnya.

KEKAYAAN SEJATI

Mark. 10:23

Beberapa silam yang lalu, bank besar Citicorp memasang serangkaian reklame iklan tentang uang,” Uang Mengubah tebal dompet bda … Pastikan uang tidak mengubah bagian lain dari hidup Anda!” dan “Jika orang berkata bahwa Anda terbuat dari uang, Anda seharusnya memperhatikan kepribadian anda!” Iklan-iklan ini member sudut pandang baru yang menyegarkan tentang kekayaan.

Allah juga memiliki pandangan yang mengejutkan tentang kekayaan. Menurut Allah, Anda mungkin “kaya” dalam harta duniawi, tetapi jiwa Anda sebenarnya sangat miskin. Atau Anda mungkin miskin secara materi duniawi, tetapi menurut standar Allah, Anda kaya dan berkelimpahan.

Kekayaan memiliki kekuatan yang mampu mempengaruhi seseorang dan dini mengingatkan saya akan sebuah kisaj tentang penguasa muda yang kaya. Setelah mendiskusikan topic kehidupan kekal, Yesus memintanya untuk menjual segala miliknya, memberikan kepada orang-orang miskin, lalu mengikut-Nya. Sayangnya, pemuda tersebut “menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih sebab banyak hartanya” (Mark. 10:22). Lalu Yesus mengajar para murid-Nya: “alangkah sukarnya orang yang beruang masuk kedalam kerajaan Allah.”(ay.23)

Ini bukan berarti Yesus menolak kekayaan. Hanya saja Dia bersedih ketika kita menilai sesuatu lebih berharga daripada Dia. Kita dapat bekerja keras dan mendapatkan uang, tetapi itu menjadi hal-hal yang paling kita kejar dalam hidup, berarti Yesus tidak lagi menjadi yang utama. Menempatkan-Nya sebagai yang pertama dan utama dalam hidup kita adalah kunci dari kekayaan yang sejati.

SAHABAT SETIA

Yoh. 15:15

Beberapa tahun lalu, sebuah penerbit saat akan mengumpulkan hymne dari gereja Baptis mereka membuat sebuah komite untuk memilih lagu-lagu yang akan dibukukan. Didalam komite tersebut ada para theologian, pendeta dan musisi.

Suatu waktu mereka membahas sebuah lagu kuno, In The Garden, dan memperdebatkan apakah akan memaksukan lagu ini atau lagu baru. Lirik lagu ini berbunyi’” He walks with me, and he talks with me and he tells me I am his own.”

Karena terlalu banyak menggukan kata “Me”, salah seorang komite berkomentar negative tentang lagu tersebut. Dia berkata “ ini terlalu egois!” Menanggapi pernyataan tersebut, Russell Dilday yang menjadi direktur Southwestersn Seminary membuka alkitabnya dan mulai membaca Mazmur 23:1-3.

Akirnya. Lagu kuno tersebut masuk dalam buku Hymne Baptis tersebut. Dari kisah diatas kita bias belajar bahwa menyatahkan bahwa Tuhan selalu bersama kita dan peduli dengan keadaan kita bukanlah sesuatu yang egois. Dia adalah sahabat kita yang pedulidengan kehidupan pribadi kita. Jadi, jika anda merasa tidak seorangpun peduli dengan keadaan Anda, ingatlah bahwa Tuhan Yesus mengasihi dan peduli pada Anda.

Tuhan Yesus adalah Sahabatmu, Dia Peduli dengan Kehidupanmu dan Permasalahanmu. Kamu tidak Sendirian.

SUNGGUH AMAT BAIK

Kej. 1:31

Pada hari-hari penciptaan, selama enam hari Allah menciptakan bumi dan segala isinya serta semua fungsi pendukung kehidupan yang ada. Selama enam hari itu, ada sesuatu yang menarik, setiap kali Tuhan selesai dengan apa yang Ia kerjakan di hari itu, Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Bahkan dihari ke enam, Allah melihat segala yang diciptakannya sungguh amat baik.

Apa yang Tuhan lakukan membuat saya merefleksikan bagaimana saya bekerja. Jarang sekali saya di akhir hari berdiam diri sebentar dan melihat apa yang telah saya kerjakan, apalagi kalau hasilnya memuaskan dan bersyukur atas hasil kerja saya. Seharusnya kita meneladani apa yang Tuhan kerjakan, setiap kali mengakhiri pekerjaan, kita duduk diam sebentar dan melihat hasil kerja kita. Melihat apa yang baik yang telah kita lakukan, dan bersyukur atas kesempatan yang Tuhan berikan untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Ef. 2:10 berkata,”Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekejaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supanya kita hidup di dalamnya.” Jadi, apapun yang sedang kita kerjakan saat ini bukan suatu kebetulan dan hanya sekedar memenuhi kebutuhan hidup kita saja. Pekerjaan kita adalah bagian dari rencana Allah. Apapun pekerjaan kita, itu adalah sebuah ibadah, sebuah pelayanan untuk kemulian Tuhan dengan hidup kita. Jadi mari hari ini, kita melihat pekerjaan kita dengan cara pandang yang baru, dan melakukannya sebaik mungkin sehingga di akhir hari kita dapat berkata pada apa yang kita kerjakan “ Sungguh Amat Baik.”

Kita ini Buatan Allah diciptakan untuk Melakukan Pekerjaan Baik yang Telah Allah Persiapkan Sebelumnya.

Rancangan Besar

Rut 4:14-15

“Hidup itu penuh dengan kemalangan,” demikian kata-kata pahit yang keluar dari mulut seorang janda bernama Naomi ( Rut. 1:20,21). Banyangkan kondisi seorang wanita yang baru saja ditinggal oleh suami dan bahkan anak-anak laki-lakinya. Sang Janda yang malang ini hidup di tengah kelaparan di perantauan bersama kedua menantunya. Ia menolak di panggil Naomi yang artinya KESENANGAN, dan meminta dipanggil Mara, yang artinya PAHIT. Dan pada masa tuanya, ia hanya punya keinginan sederhana, yaitu menikmati masa tuanya yang tenang dengan menimang cucu. Namun, semua itu menjadi tidak mungkin sebab kedua anak lelakinya mati tanpa meninggalkan keturunan!

Bukankah kita juga demikian? Hidup kita dipenuhi mimpi dan harapan. Banyak hal yang kita cita-citakan. Namun, ketika sesuatu terjadi didalam hidup ini dan mengandaskan impian kita, maka kita merasa hidup dan semangat pun hancur bersamanya. Dalam kondisi demikian, kita pun semakin sulit memahami bahwa Tuhan pasti memiliki rancangan yang baik. Bahwa Dia memiliki “MIMPI” bagi hidup kita dan pasti menjadikan segala sesuatunya baik pada waktunya.

Kita tahu, cerita Naomi ini kisah yang berakhir dengan kebahagian. Pada akhirnya Alkitab mencatat bahwa Naomi memangku cucunya dengan gembira pada hari tuanya. (Rut 4:16). Dan bukan hanya itu, mimpi Allah bagi dirinya juga terwujud, karena pada akhirnya Naomi mengenal bahwa Allah memelihara hidupnya (ay.14). Hari ini, jika Kita menilik lagi mimpi kita yang kandas, lihatlah rancangan besar-Nya; Dia selalu ada dan memelihara dengan sempurna.

Mimpi Besar Kita Mungkin Bisa saja Kandas, namun Kita Harus Yakin bahwa Penyertaan Tuhan tidak pernah terlepas.

Warisan Abadi

Kej. 5:1-32

Jika Anda membaca tentang silsilah Alkitab, mungkin sedikit membosankan. Anda mungkin berpikir,apa yang Tuhna mau ajarkan dari silsilah dan jumlah umur seseorang? Hal yang sama juga saya tanyakan ketika membaca silsilah anak cucu Adam, si manusia pertama.

Dalam daftar silsilah Adam pada Kej.5, ada satu kalimat yang menarik,” Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah memperanakkan Metusalah.” ( Kej. 5:22). Henokh mendapatkan anak laki-laki, Lamekh ketika ia berumur 62 tahun, setelah itu ia masih hidup 303 tahun lagi, karena ia diangkat pada umur 365 tahun. Setelah saya hitung, ternyata saat Nuh lahir, Henokh masih ada bersama keluarganya. Ia masih melihat cicitnya tersebut lahir bahkan melihatnya tumbuh kurang lebih satu tahun.

Saya membayangkan bagaimana hidup keluarga Henokh, jika sang kakek buyut seorang yang bergaul karib dengan Tuhan, tentunya ia akan mengajarkan cara hidupnya kepada anak dan cucu-cucunya. Jadi tidak heran ketika Tuhan akan menghukum bumi ini, orang pertama yang Ia ajak bicara adalah Nuh. Pasti Nuh mewarisi cara hidup kakek buyutnya, ia juga bergaul karib dengan Tuhan. Bukankah itu warisan yang sangat luar biasa, dan pastinya lebih berharga daripada harta dunia sebanyak apapun.

Hal itu membuat saya berpikir, apa yang akan saya wariskan kepada keturunan saya nanti. Kalaupun Anda belum berkeluarga, Anda juga harus memikirkannya, gaya hidup seperti apa yang akan Anda wariskan kepada keturunan Anda. Sebanyak apapun harta di dunia ini, tidak ada artinya jika mereka tidak memiliki Tuhan dalam hidupnya. Tuhan adalah warisan yang paling berharga di hidup ini. Anda bahkan bias mewariskan harta yang berharga ini kepada setiap orang yang Anda temui, kepada generasi ini. Perkenalkanlah sebanyak mungkin orang kepada Yesus.

Yesus adalah Warisan Abadi dan harta Paling Berharga dalam Hidup ini, Jadi Mari Wariskanlah Gaya Hidup yang Karib dengan Tuhan kepada Keturunan Anda.

Waktu Untuk Tuhan

Keberhasilan orang lain, hal tersebut seringkali dapat menjadi pencobaan serius hidup seseorang. Seandainya Anda mulai berkarir bersamaan dengan sahabat Anda, namun karirnya lebih cepat menanjak daripada Anda, Bagaimana Anda meresponnya ???

Kain adalah contoh dampak buruk yang namanya iri hati. Dalam Kejadian 4 tidak dijelaskan alasan Tuhan mengindahkan persembahan Habel dan tidak mengindahn persembahan Kain. Bisa saja Tuhan melakukan itu untuk menguji sikap hati Kain dan Habel. Apakah Habel sombong akan keberhasilannya dan apakah Kain iri hati akan keberhasilan Habel ? Saya percaya ketika Tuhan melakukan sesuatu pasti ada alasan kuat dibelakangnya.

Ketika iri hati sudah mulai terselip di hati Kain, Tuhan telah memperingatkannya. Tuhan meminta Kain untuk berkuasa atas dosa yang menggodanya. Namun sayang, Kain dikalahkan oleh rasa iri hatinya dan meresponinya dengan salah. Dosa itu akhirnya berbuah maut, Ia membunuh Habel, adiknya sendiri.

Sama seperti Kain, Tuhan seringkali memperingatkan kita melalui hati nurani kita ketika dosa sudah mulai mengintip dan menggoda kita. Mari kita peka terhadap suara Tuhan tersebut. Berkuasalah atas dosa, jangan mala sebaliknya dikuasai oleh dosa. Percayalah bahwa waktu Tuhan yang terbaik buat Anda dan promosi asalnya Tuhan. Jangan ijinkan iri hati menghancurkan masa depan Anda. Rendakanlah hati Anda dan jalanilah proses Tuhan dengan sukacita dan bertekun. Bersukacitalah atas keberhasilan orang lain. Akan tiba wakttunya ketika Anda telah siap, Tuhan akan membukakan pintu-pintu promosi bagi Anda.

Tuhan Seringkali Berkata Tidak Pada Kita, Namun Bukan Berarti Dia Menolak atau Membenci Kita. Kadang itu Hanyalah Sebuah Ujian atau Penundaan. Responilah dengan Benar.

Menghadapi Tuduhan

Maz. 90
Gosip, tuduhan, fitnah telah menghancurkan kehidupan banyak orang, bahkan tidak jarang memecah belah gereja dan umat Tuhan. Hari ini, jika Anda mengalaminya, yang Anda perlu lakukan adalah tetap tenang dan diam. Jadilah seperti Yesus yang diam seperti domba yang hendak disembelih sekalipun menghadapi tuduhan yang hebat dari berbagai pihak. Jangan tergoda untuk membela diri atau menyerang balik. Tuhan menghargai integritas, pada waktunya Tuhan akan memunculkan kebenarannya.

Hal selanjutnya yang Anda perlu lakukan setelah diam diri adalah jangan biarkan tuduhan-tuduhan itu melemahkan semangat dan menghancurkan Anda. Pandanglah salib Yesus. Dia disalibkan diatas sebuah bukit, dipertontonkan hingga akhirnya lemah, pucat dan mati. Namun itu bukanlah kekalahan tapi awal kemenangan karena pada akhirnya Yesus bangkit dan hidup kembali. Dia melakukannya bagi kita.

Jika Anda hari sedang mengalami ketidakadilan, ingatlah bahwa Tuhan bersama Anda. Anda tidak menghadapinya sendiri, Dia ada di dekat Anda bahkan memeluk Anda ketika berseru dan menangis karena rasa sakit hati. Lepaskanlah pengampunan hari ini, dan ijinkan Tuhan bekerja dalam hidup Anda untuk merendah sesuatu yang indah bagi masa depan Anda. Nantikan kebenaran yang dari Tuhan itu bersinar dalam hidup Anda.

Sebaliknya, jika Anda salah satu orang yang menyebarkan desas-desus itu, gosip atau kabar buruk itu, bertobatlah. Berhentilah hari ini juga. Jika Anda berkata bahwa Anda pengikut Kristus, ketahuilah bahwa Anda sedang menyakiti orang lain. Itu sama saja dengan menyakiti tubuh Kristus. Anda meruntuhkan kesaksian Kristus. Tidak ada yang ingin di dengar dan dilihat oleh dunia ini selain pertengkaran dan kehancuran dalam keluarga Allah. Mari hentikan semua itu.

Menanggung tuduhan yang bukan kesalahan Anda bukanlah hal itu tidak menyenangkan? Yesus menanggungnya, bukan hanya kesalahan Anda, tapi juga kesalahan seluruh umat-Nya. Amin !!!

Rabu, 08 Juni 2011

Kepercayaan yang Tepat

Saya memiliki seorang teman di salah satu kota Pulau Jawa. Teman saya ini memiliki hobi yang unik. Pada umumnya, orang suka mengumpulkan foto para pejabat, tetapi teman saya ini justru mengumpulkan foto para pendeta. Di dinding rumahnya tergantung puluhan foto dirinya bersama para pendeta dengan ukuran besar. Saya rasa tidak ada salahnya mengumpulkan foto para pendeta, asal kita menyadari bahwa pada dasarnya tidak ada seorang pun manusia di dunia ini yang dapat memberikan keselamatan. Memgenal banyak pendeta tidak sendirinya menjamin keselamatan kita. Bahkan menjadi anak seorang pendeta pun tidak menjamin keselamatan kita. Justru suatu kekeliruan bila kita mengenal banyak pendeta, tetapi kita tidakmengenal Tuhan. Hanya Tuhanlah yang dapat memberikan keselamatan. Seharusnya kita lebih mempercayai Tuhan daripada manusia. Daud memilih langkah yang tepat sekali pun dalam situasi dan kondisi yang menyakitkan, ia tahu hanya Allah satu-satunya penolong dalam hidupnya. Bahkan ketika Daud mau di bunuh oleh raja Salomo, Ia masih tetap mengandalkan Tuhan. Kepercayaan yang dimiliki Daud sangat besar, ketika ia tahu bahwa sahabatnya Yonathan parti akan menölongnya. Tetapi keselamatan yang Tuhan berikan kepadanya itu jauh lebih bermanfaat . Masihkah kepercayaan kita tetap kepada Tuhan sekalipun kita masìh dalam situasi dan kondisi kekurang. ¤ KEPERCAYAAN YANG TEPAT AKAN MEMBAWA HIDUP KITA JAUH LEBIH BERARTI ¤

Sabtu, 10 Juli 2010

MENGUATKAN KEPERCAYAAN

( JANGAN MENGANDALKAN KEKUATAN SENDIRI DAN SESAMA KITA MANUSIA, TETAPI ANDALKANLAH TUHAN )

Mengapa orang Ziklag merasa marah kepada Daud, sehinggah ingain melempar Daud dengan batu, bukan kepada orang Amalek yang sudah membakar habis seisi rumahnya dan merapas, enatah itu harta atau orang-orang yang ada disana yang dijadikan tawanan? Padahal istri Daud dan anak-anaknya menjadi tawanan juga pada orang Amalek. Mengapa? Karena orang yang ada di Ziklag hanya percaya dan mengandalakan raja Daud. Mereka tidak menguatkan kepercayaannya dan mengandalkan Tuhan.

Apabila orang menandalkan manusia, suatu saat ia akan mengalami masa-masa terjepit seperti yang dialami oleh Daud. Orang Filistin yang diharapkan untuk memberikan pertolongan menolaknya.

Seluruh keluarga dan harta mereka habis di rampk oleh bangsa Amalek. Para pengikutnya berbalik hendak melempari batu. Ketahuilah, dalam keadaan seperti itu, Daud mengambil keputusan yang tepat, yaitu ia kembali menaruh harapannya kepada Tuhan. Akibatnya, ia memperoleh pertolongan dari Tuhan.

Tuhan adalah pribadi yang dapat di andalkan dalam hidup kita. Bukan hanya menolong tapi juga setia kepada mereka yang menaruh harapannya kepada-Nya. Yakin dan percaya jika kita menaruh harapan kita kepada Tuhan , kita tidak akan pernah menyesal dan sebaliknya jika kita menaruh harapan kita sesama kita manusia akan ada penyesalan dan kekecewaan.

* A M I N *

Sabtu, 26 Juni 2010

MALAPETAKA KESOMBONGAN

2 Sam. 24:10 ( Aku sangat berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang, Tuhan, jauhkanlah kiranya kesalahan hamba-Mu, sebab perbuatan ku itu bodoh. )

Menghitung jumlah penduduk yang ada pada suatu kerajaan bukan sesuatu yang salah. Namun, motivasi yang melatarbelakangi usaha perhitungan ini, yaitu kesombongan, adalah hal yang jahat dalam pandangan Allah. Inilah raja Daud alami ketika ia menghitung rakyatnya, raja Daud tidak menduga bahwa tindakan yang diambilnya itu adalah salah. Ada kesombongan di balik semuanya itu. Maka berfirmanlah Tuhan kepada nabi Gad untuk disampaikan kepada raja Daud:
  • Akan datang 3 tahun kelaparan dinegeri Daud.
  • Daud disuruh melarikan diri selama 3 bulan dari hadapan lawannya, tetapi mereka sendiri sedang mengejar Daud.
  • Akan datang tiga hari penyakit sampar di negeri Daud.
Tetapi Daud tetap memilih untuk tinggal dinegerinya, karena ia tahu bahwa kasih Allah itu besar. Singkat cerita, datanglah malapetaka dinegeri raja Daud. Terjadilah penyakit sampar sesuai waktu yang ditetapkan Tuhan.

Tuhan menentang orang yang congkak hatinya karena kecongkakan adalah akar pemberontakan kepada Tuhan. Karena perasaan sombong, manusia mersa tidak memerlukan Tuhan dan menganggap bahwa keberhasilan yang telah ia capai terjadi semata-mata kemampuannya sendiri. Manusia sendiri tidak suka dengan orang sombong apalagi dengan Tuhan.


*** KESOMBONGAN MEMBAWA KITA KEPADA KEHANCURAN ***